TEKS PESANTREN DAN BUDAYA DAMAI
Mengapa tindakan kekerasan [teror atau pengrusakan] terhadap kelompok yang secara ideologi berbeda selalu menggunakan dalil-dalil normatif agama untuk membenarkan bahwa tindakan kekerasan yang mereka lakukan secara ilmiah adalah benar? dan mengapa kelompok yang menolaknya juga menggunakan pilihan-pilihan dalil agama dari sumber yang sama untuk menyakinkan bahwa tindakan kekerasan yang mereka lakukan adalah salah? Mengapa terdapat kelompok keagamaan yang menampilkan wajah keberagamaan yang keras, atoleran, tertutup, selalu menyakini pandangan-pandangannya sebagai suatu yang paling benar dan keyakinan diluar kelompoknya adalah salah? mengapa masih saja terjadi konflik horizontal antar komunitas yang mengatasnamakan agama seperti di Ambon, Sulawesi, Maluku, Poso dan seterusnya? Mengapa pekik-pekik yang pada awalnya dimaksudkan untuk mengagungkan Allah kemudian menjadi semacam alat untuk membantai dan menghakimi? sehingga “Allahu Akbar” dan “La Ilaha Illa al-Lah” tidak lagi bermakna kebesaran Allah melainkan berarti “merobohkan pagar-pagar, menyerang tempat-tempat maksiat dan sejenisnya”? mengapa teks-teks agama begitu mudah dijadikan justifikasi tindakan kekerasan? Dan sederet pertanyaan-pertanyaan yang sempat membuat wajah Islam yang misi dasarnya ramah dan damai sebagai Islam yang seram dan menakutkan.
Tidak mudah menemukan jawaban dari seluruh problem keberagamaan dan sekaligus problem kemanusiaan di atas sekalipun penelitian-penelitian ilmiah telah banyak dilakukan. Alih-alih mengahirinya polemik ditubuh agama sendiri belum terselesaikan sampai saat ini. Perbedaan pendapat didalam teks-teks agama selalu membuka luas terjadinya perpecahan bahkan dalam komunitasnya sendiri. Contoh terbaru perbedaan penetapan 1 syawal 1427 H antara PBNU dan PWNU Jawa Timur dan antara Muhammadiyah versus Pemerintah. Sekalipun di tingkat elit perbedaan tersebut sebagai suatu kewajaran, akan teapi tidak demikian di kalangan umat yang pengetahuan agamanya tidak mendalam. Pertengkaran-pertengkaran kecil dan bahkan pertengkaran fisik terjadi dimana-mana menyusul kontroversi itu.
Namun secara sederhana dapat dikatakan bahwa kekerasan atas nama agama terjadi karena teks-teks otoritatif agama dan teks-teks turunannya sepintas memberikan peluang kearah itu. Disamping problem metodologi pemahaman agama yang dianut masing-masing kelompok keagamaan. Tulisan-tulisan dan artikel-artikel di berbagai media serta
| :: ( Document Information )::
|
|||
| Judul | : | TEKS PESANTREN DAN BUDAYA DAMAI | |
| Jenis | : | Tugas Kuliah | |
| Download | : | Klik Gambar dibawah ini untuk download file secara lengkap
|
|









